|
Pertunjukan Ayah
Beberapa
waktu lalu sebuah gedung opera di Paris mengundang seorang penyanyi
terkenal untuk mengadakan pertunjukan di sana. Tiket pertunjukan
telah terjual habis, dan semua orang ingin sekali menonton penampilan
penyanyi terkenal itu.
Tetapi
tepat pada malam pertunjukkan, sang penyanyi jatuh sakit dan tidak
bisa tampil. Panitia pun kemudian naik ke atas panggung dan menyampaikan
permohonan maafnya, "Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, terima kasih
sekali atas dukungan anda semua atas pertunjukkan ini. Tetapi dengan
sangat menyesal, karena sakit, penyanyi yang sedang kita tunggu-tunggu
ini tidak bisa tampil malam ini."
"Namun begitu", lanjutnya, "kami telah menunjuk seorang
penyanyi pengganti yang kami harap bisa memberikan hiburan yang
tak kalah menariknya."
Langsung saja seluruh penonton berteriak menyatakan kekecewaan mereka.
Pengumuman selanjutnya dari pimpinan gedung opera mengenai nama
penyanyi pengganti itu tidak lagi terdengar dan tenggelam dalam
gerutu penonton yang dongkol.
Suasana yang semula penuh kemeriahan berubah menjadi putus asa dan
kekecewaan.
Meski
begitu, penyanyi pengganti yang naik ke atas panggung tampak berusaha
keras menampilkan semua kemampuan terbaiknya. Dan ketika ia selesai
merampungkan pertunjukkannya, tak seorang pun memberikan tepuk tangan.
Tak seorang pun. Suasana terasa dingin dan sunyi.
Hingga tiba-tiba dari salah satu sudut balkon, seorang anak kecil
berdiri dan berteriak, "Ayah...! Pertunjukkan ayah hebat sekali...!"
Ia bertepuk tangan sendiri sekeras-kerasnya.
Para penonton menoleh pada anak kecil yang berdiri di atas balkon.
Mereka pun merasa malu, betapa mereka tak mampu menghargai seseorang
yang telah berusaha menampilkan pertunjukan yang sebaik-baiknya
meski hanya sebagai penyanyi pengganti.
Dan akhirnya, suasana gedung opera pun pecah dengan gemuruh
tepuk tangan dari seluruh penonton.
***
Berikan yang terbaik, meski tak seorang pun
menghargainya. Namun, hargai jerih payah yang telah ditunjukkan
oleh orang lain. Bukankah itu adalah pertanda keberadaban kita?
|