|
Riak Kecil
Suatu
hari seorang Guru sedang berjalan-jalan di sebuah taman dan bertemu
dengan anak muda yang tampak murung. Guru mendekati anak muda itu
dan berkata, "Hari ini indah sekali bukan? Tentu amat sulit
untuk bersikap serius di hari yang cerah ini."
"Oh
ya? Saya malah tidak menyadarinya," sahut anak muda itu. Ia
lalu melihat ke sekeliling. Matanya memandang ke kejauhan, tetapi
pikirannya sedang berada di tempat lain.
Guru mengamati anak muda itu dengan sungguh-sungguh. Lalu ia menawarkan,
"Bagaimana kalau kau ikut bersamaku."
Lalu, mereka berdua berjalan-jalan hingga sampai ke sebuah danau
yang berair tenang, dikelilingi oleh pohon-pohon yang menjulang,
daun-daunnya tampak kuning keemas-emasan pertanda musim gugur telah
tiba. "Mari kita duduk di sini sejenak," ajak sang Guru.
Anak muda itu menuruti ajakan sang Guru. Mereka lalu duduk berdamping-dampingan.
"Nah, sekarang carilah sebuah kerikil kecil," pinta sang
Guru.
"Apa?"
"Sebuah batu kerikil kecil. Carikan untukku lalu lemparkan
ke tengah-tengah telaga itu."
Anak
muda itu menyisir tanah, menjumput segenggam batu kecil lalu melemparkannya
jauh-jauh ke tengah telaga.
"Nah, apa yang kau lihat sekarang," tanya sang Guru.
Anak muda itu memicingkan matanya tajam-tajam seolah tak ingin kehilangan
satu kesempatan pun. Katanya, "Aku melihat riak-riak gelombang
air."
"Dari mana datangnya riak-riak gelombang air itu?"
"Daru batu-batu kecil yang aku lemparkan ke tengah telaga itu,
Guru."
"Sekarang, coba masukkan kedua belah tanganmu ke air dan hentikan
laju riak-riak gelombang air itu," pinta sang Guru.
Tidak
sepenuhnya paham apa yang dimaksudkan sang Guru, namun anak muda
itu tetap saja mencelupkan tangannya ke dalam air untuk menghentikan
laju riak air. Tetapi apa yang dilakukannya hanya menimbulkan lebih
banyak riak-riak gelombang air saja. Anak muda itu menjadi benar-benar
heran. Bagaimana ini? Apakah sang Guru telah salah memberinya petunjuk?
Anak muda itu terlolong-lolong keheranan memandangi sang Guru dan
perbuatannya.
"Apakah kau bisa menghentikan riak-riak air itu dengan tanganmu?"
tanya sang Guru.
"Tentu saja tidak. Malah kini lebih banyak lagi riak-riak air
yang timbul!"
"Lalu, bisakah kau menghentikan riak-riak gelombang air itu?"
"Tidak
Guru. Bukankah seperti aku katakan tadi, apa yang aku lakukan malah
menciptakan lebih banyak riak-riak gelombang air."
"Bagaimana jadinya bila kau tadi berusaha menangkap batu-batu
yang kau lemparkan sebelum ia jatuh ke dalam air?" Sang Guru
kini tersenyum dengan senyum yang mengobati kekecewaan anak muda
itu.
"Lain kali bila kau merasa tidak bahagia dalam hidupmu, tangkaplah
batu-batu itu sebelum ia menyentuh permukaan air. Jangan habiskan
waktumu untuk berusaha menarik apa yang telah kau lakukan. Lebih
baik kau mengubah apa yang akan kau lakukan sebelum benar-benar
kau lakukan." Sang Guru menatap wajah anak muda itu.
"Tapi Guru, bagaimana aku bisa tahu apa yang akan aku lakukan
sebelum aku melakukannya?"
"Bertanggungjawablah
atas hidupmu sendiri. Bila kau berkonsultasi dengan dokter yang
bertugas menyembuhkan penyakit, maka tanyakan padanya agar kau paham
apa-apa yang menyebabkan penyakit itu. Jangan sekedar berusaha menghentikan
riak-riak gelombang air saja. Teruslah bertanya dan mencari."
Anak muda itu tercenung sejenak. "Tetapi, Guru, aku mengikutimu
untuk menemukan jawaban darimu. Apakah anda mengatakan bahwa aku
sesungguhnya tahu akan jawaban atas pertanyaanku sendiri?"
"Mungkin kau tak tahu jawaban yang benar sekarang, tetapi jika
kau mengajukan pertanyaan yang tepat, kau akan menemukan jawaban
itu sendiri."
"Lalu, apa pertanyaan yang tepat itu, Guru?"
"Tidak ada pertanyaan yang salah. Yang ada hanya pertanyaan
yang tidak ditanyakan. Bila kita tidak bertanya, takkan ada jawaban.
Dan, tanggung jawabmu adalah bertanya. Tak yang bisa melakukan itu
kecuali dirimu sendiri."
|